Tampilkan posting dengan label Sejarah Seni Arsitektur. Tampilkan semua posting
Tampilkan posting dengan label Sejarah Seni Arsitektur. Tampilkan semua posting

Selasa, 10 Juni 2014

Sejarah Kerajaan Lumajang Dipimpin Sang Arsitek Nusantara

Dalam prasasti mulan malurung dengan angka tahun 1177 Saka (1255 Masehi), Lumajang dibawah kerajaan Singhasari dengan diutusnya Oleh Wisnu Wardana yakni Narariya Kirana, tapi Lumajang bukan sebuah kerajaan kecil yang harus tunduk. Namun Lumajang, menjadi kerajaan besar dan disegani sejak dipimpin Aria Wiraraja, karena dikenal sang Arsitek Nusantara.

Informasi yang berhasil dihimpun dari berbagai sumber, Aria Wiraraja atau Banyak Wide adalah tokoh pengatur siasat Raden Wijaya dalam usaha penaklukan Kadiri tahun 1293 dan pendirian Kerajaan Majapahit. Dalam Kidung Panji Wijayakrama dan Kidung Harsawijaya mengisahkan Arya Wiraraja semula menjabat sebagai rakryan demung pada masa pemerintahan Kertanagara di Singhasari.

Namun karena sikapnya menentang politik luar negeri raja, ia pun dipindahkan menjadi bupati Sumenep. Wiraraja menerima mutasi itu dengan senang hati. Dia yang mengetahui kalau Jayakatwang bupati Gelang-Gelang berniat memberontak, untuk membalas kekalahan leluhurnya, yaitu Kertajaya raja terakhir Kadiri yang digulingkan oleh Ken Arok pendiri Kerajaan Tumapel atau Singhasari.

Wiraraja pun mengirim surat melalui putranya yang bernama Wirondaya, yang berisi saran supaya Jayakatwang segera melaksanakan niatnya, karena saat itu sebagian besar tentara Singhasari sedang berada di luar Jawa. Maka pada tahun 1292, terjadilah serangan pasukan Gelang-Gelang terhadap ibu kota Singhasari. Kertanagara tewas di istana. Jayakatwang lalu membangun kembali negeri leluhurnya, yaitu Kadiri dan menjadi raja di sana.

Persekutuan Aria Wiraraja dengan Raden Wijaya

Menantu Kertanagara yang bernama Raden Wijaya mengungsi ke Sumenep meminta perlindungan Aria Wiraraja setelah singhari ditaklukan oleh Jayakatwang. Semasa muda, Wiraraja pernah mengabdi pada Narasingamurti kakek Raden Wijaya. Maka, ia pun bersedia membantu sang pangeran untuk menggulingkan Jayakatwang. Raden Wijaya bersumpah jika ia berhasil merebut kembali takhta mertuanya, maka kekuasaannya akan dibagi dua, yaitu untuk dirinya dan untuk Wiraraja.

Mula-mula Wiraraja menyarankan agar Raden Wijaya pura-pura menyerah ke Kadhiri yang kini berpusat di Singhasaru. Atas jaminan darinya, Raden Wijaya dapat diterima dengan baik oleh Jayakatwang. Sebagai bukti takluk, Raden Wijaya siap membuka Hutan TarikTarik, Sidoarjo menjadi kawasan wisata bagi Jayakatwang yang gemar berburu. Jayakatwang mengabulkannya. Raden Wijaya dibantu orang-orang Madura kiriman Wiraraja membuka hutan tersebut, dan mendirikan desa Majapahit di dalamnya.

Pada tahun 1293 datang tentara Mongol untuk menghukum Kertanagara yang berani menyakiti utusan Kubilai Khan tahun 1289. Raden Wijaya selaku ahli waris Kertanagara siap menyerahkan diri asalkan ia terlebih dahulu dibantu memerdekakan diri dari Jayakatwang. Maka bergabunglah pasukan Mongol dan Majapahit menyerbu ibu kota Kadiri. Setelah Jayakatwang kalah, pihak Majapahit ganti mengusir pasukan Mongol dari tanah Jawa.

Menurut Kidung Panji Wijayakrama dan Kidung Harsawijaya, pasukan Mongol datang atas undangan Wiraraja untuk membantu Raden Wijaya mengalahkan Kadiri, dengan imbalan dua orang putri sebagai istri kaisar Mongol. Kisah tersebut hanyalah ciptaan si pengarang yang tidak mengetahui kejadian sebenarnya. Dari berita Cina diketahui tujuan kedatangan pasukan Mongol adalah untuk menaklukkan Kertanagara penguasa Jawa.

Jabatan Aria Wiraraja di Majapahit

Raden Wijaya menjadi raja pertama Majapahit yang merdeka tahun 1293. Dari prasasti Kudadu (1294) diketahui jabatan Aria Wiraraja adalah sebagai pasangguhan dengan gelar Rakryan Mantri Arya Wiraraja Makapramuka. Pada prasasti Penanggungan (1296) nama Wiraraja sudah tidak lagi dijumpai.

Penyebabnya ialah pada tahun 1295 salah satu putra Wiraraja yang bernama Ranggalawe melakukan pemberontakan dan menemui kematiannya. Peristiwa itu membuat Wiraraja sakit hati dan mengundurkan diri dari jabatannya. Ia lalu menuntut janji Raden Wijaya, yaitu setengah wilayah Majapahit. Raden Wijaya mengabulkannya. Wiraraja akhirnya mendapatkan Majapahit sebelah timur dengan ibu kota di Lumajang.

Kemerdekaan Majapahit Timur (Kerajaan Lamajang)

Dalam kitab Pararatin Pararaton menyebutkan pada tahun 1316 terjadi perlawanan Nambi di Lumajang terhadap Jayanagara raja kedua Majapahit. Pasalnya, Nambi dihasut oleh Mahapatih dan dilaporkan ke Jayangera kalau hendak melakukan pemberontakan saat mengunjungi ayahnya yang meninggal di Lamajang.

Nambi yang tidak tahu akan diserang oleh Jayangera dengan seluruh pasukan Majapahit Barat kaget. Demi menjaga dan mencintai tanah kelahirannya, Nambi melawan Jayanegara bersama senopatine Lamajang. Ketidaksiapkan Nambi dan orang Lamajang, membuat Nambi tewas di Pajarakan yang kini rumah di Candi Agung Randuagung.

Sedangkan Pasukan Lamajang bertahan habis-habisan di Kotarajanya di Sungai Bondoyudo. Pasukan Mojopahit tidak berhasil menaklukan SItus Biting yang merupakan sisa kotaraja Lamajang.

Didalam Kidung Sorandaka mengisahkan perlawanan tersebut terjadi setelah kematian ayah Nambi yang bernama Pranaraja. Sedangkan, Pararaton dan Kidung Harsawijaya menyebut Nambi adalah putra Wiraraja. Menurut prasasti Kudadu (1294) Pranaraja tidak sama dengan Wiraraja. "Soal siapa ayah nambi atau Ranggalawe, apakah Wiraraja, masih perlu penelitian lebih lanjut,' kata Mansur Hidayat, Sejarawan Lumajang.

Dia mengatakan, Berdasarkan analisis Slamet Muljana menggunakan bukti prasasti Kudadu dan prasasti Penanggungan (dalam bukunya, Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya, 1979), Wiraraja lebih tepat sebagai ayah Ranggalawe dari pada ayah Nambi. Tidak diketahui dengan pasti apakah Wiraraja masih hidup pada tahun 1316. Yang jelas, setelah kekalahan Nambi, daerah Lumajang kembali bersatu dengan Majapahit bagian barat. Ini berarti penguasa Majapahit Timur saat itu (entah Wiraraja atau penggantinya) bergabung dengan Nambi dan terbunuh oleh serangan pasukan Majapahit Barat.

"Lumajang memiliki sejarah yang hebat, sayang belum dibukukan, semoga sewaktu saat ada buku sejarah tentang Lamajang,' pungkasnya.

2 eyes x 50 years = 100 sketches teknik komunikasi arsitektur 2



http://arsitektur-gambar.blogspot.com/2014/06/2-eyes-x-50-years-100-sketches-teknik.htmlketika saya masih kuliah di program studi arsitektur dulu, ada satu mata kuliah yang selalu saya ikuti di setiap semester genap: teknik komunikasi arsitektur 2. kuliah itu adalah tentang menggambar, sketsa. jadi saya -- dan mahasiswa lainnya tentu saja -- diharuskan "blusukan" mendatangi bangunan-bangunan tertentu di seantero jogja utuk membuat sketsanya.

bukan karena saya begitu menyukai mata kuliah itu sehingga terus saya ikuti di setiap semester genapnya, tapi karena saya memang tidak pernah berhasil melalui kuliah itu dengan selamat. tidak pernah lulus. bahkan sampai sekarang pun saya tidak mahir membuat sketsa. kalau ada penyesalan saya ketika kuliah, inilah salah satunya.

tapi sudahlah. bukan saya yang ingin saya ceritakan, tapi sebuah buku: 2 eyes x 50 years = 100 sketches.

“don’t buy the book by its cover,” katanya. jangan beli buku yang tidak ada sampulnya. maka begitulah saya kemudian mengabaikan sampul buku itu dan judulnya yang sederhana. setelah saya buka beberapa halaman, ada beberapa nama yang cukup saya kenal di sana. beberapa nama dosen saya di jogja dulu. salah satunya: eko prawoto.

tentu saja, buku itu ternyata berisi seratus sketsa yang dibuat oleh eko prawoto, salah seorang dosen saya di jogja dulu. dua mata [yang dipakai] selama lima puluh tahun [untuk menghasilkan] seratus sketsa, demikian kira-kira terjemahan dari judul buku itu.

dosen saya dulu itu, eko prawoto, tentu menghasilkan lebih dari seratus sketsa sepanjang karirnya. tapi tentu tidaklah eksotis untuk menjadikan judul buku itu “2 x 50 = 573”, misalnya. selain, tentu saja, operasi matematikanya yang kemudian juga menjadi tidak benar. konyol. saya yang konyol maksudnya.

sketsa bisa dipandang dari dua sisi. sebagai arsitek, sketsa adalah semacam alat untuk menjelaskan ide-ide awalnya. semacam janin dari sebuah desain. begitulah kemudian bagaimana seorang arsitek akan sangat dekat dengan sketsa. tapi sketsa bukan cuma hak istimewa arsitek atau artis visual lainnya, sketsa juga semacam media rekam bagi semua orang. "catatan visual," kata eko prawoto.

eko prawoto adalah arsitek yang merekam, maka katanya lagi, "membuat sketsa dapat juga dipakai sebagai metoda untuk melatih kepekaan dalam melihat dan merasakan ruang."

buku ini dibuka dengan beberapa esai dari beberapa orang: eko prawoto sendiri, kuss indarto -- seorang kurator seni rupa, kris budiman -- seorang penulis dan pengajar di sebuah perguruan tinggi ternama, dan mahatmanta -- sejawat eko prawoto di universitas tempat saya kuliah dulu.

"membaca" buku ini, kita akan diajak untuk kembali melalui jalan-jalan yang pernah dilewati eko prawoto di rentang hidupnya. jogja, bali, korea [selatan], turki, belanda, norwegia, australia, dan lain-lain. tapi seperti saya katakan, eko prawoto adalah arsitek, maka sketsa yang dibuatnya lebih merupakan "usaha untuk menangkap ruang" daripada sebuah rekaman dari sebuah peristiwa atau tempat.

keterangan singkat yang menyertai sketsa-sketsa di dalam buku ini juga menegaskan hal itu.

tapi lebih dari sekedar sebuah catatan visual dari sebuah perjalanan, sketsa-sketsa dalam buku ini mencatat tentang sejarah, tentang kreativitas, tentang manusia, tentang kehidupan. kehidupan yang mewujud dalam arsitektur di setiap tempatnya. seperti kata eko prawoto sendiri:

"ber-arsitektur tidak hanya senantiasa berkaitan dengan perkara ruang, cahaya, bentuk, detail elemen, struktur dan konstruksi, dan bahan bangunan, namun juga suasana atau jiwa yang terpancar, atau tentang ungkapan tanda kehidupan, perwujudan hasil interaksi antara setting dan kegiatan manusia, juga tentang kreativitas manusia dalam menjawab kehidupan."

dan saya meng-amin-i-nya.
--------------------
- end of note -




Selasa, 03 Juni 2014

Psikologi dalam Perkembangan Arsitektur

Psikologi dalam Perkembangan Arsitektur
  N Vinky Rahman
?2003 Digitized by USU digital library
1
PSIKOLOGI  DALAM PERKEMBANGAN ARSITEKTUR

Ir. NURINAYAT VINKY RAHMAN MT.

Fakultas Teknik
Program Studi Arsitektur
Universitas Sumatera Utara

 ?Arsitektur adalah suatu ekspresi yang paling tinggi dari alam pikiran
sesorang ; semangatnya, kemanusiaannya, kesetiaannya dan keyakinannya?.
Ungkapan di atas, adalah isi manifesto bersama yang dibuat oleh Walter Gropius,
Bruno Taut dan Adolf Behne yang disebarluaskan di dalam suatu pameran karya
arsitek-arsitek yang belum terkenal pada saat di Berlin pada tahun 1919.
1)

Arsitektur Yunani Klasik mempunyai  dasar prinsip yang dikenal dengan istilah
?figure & ground?, mirip seperti yang ditampilkan arsitek-arsitek Romantis di Eropa
Barat seabad yang lalu. Teknik seperti ini menampilkan karya-karya arsitektur dan
lingkungan alamnya secara hablur dan menyatu, yang sering juga dikenal dengan
istilah ?picturesque? atau tampil  seperti layaknya sebuah lukisan.  Jadi, jauh
sebelum ilmu Psikologi lahir dan dikenal sebagai suatu disiplin ilmu, aspeknya
(psikologi) telah digunakan manusia dalam menciptakan karya arsitektur ataupun
berkarya seni. 
Di jaman renaisance di awal abad XVI , disaat eksisnya para perupa-perupa
fenomenal seperti Leonardo Da Vinci, Michelangelo, Bramante dan Raphael, aspek
inipun kental dipakai dalam berkarya.  Bramante tampil menjadi pioner dengan
mengajukan konsep pelukisan berdasarkan pada teknik ?perspektif?.  Teknik dan
konsep ini  kemudian  dianggap sebagai dasar wujud dari ?ruang? dalam arsitektur. 
Dalam psikologi ungkapan ?ruang? tersebut , dikenal dengan istilah ?depih? yang
berarti  ?kedalaman?.  Michelangelo seorang seniman temperamental dan merupakan
salah seorang arsitek terbesar di masa renaisance ini, dalam beberapa karyanya
sukses menampilkan  konsep-konsep, baik karya dia sebagai perupa maupun
sebagai arsitek dengan menampilkan  teknik teknik ?perspektif?  ini dengan
sempurna.

                                                          
1)
  Walter Gropius, Bruno Taut, Adolf Behne, ?News ideaas on Architecture?, oleh Ulrich Conrad, ?Program
and Manifestos on 20
th
 Century Architecture?, Massachusetts, 1970, hlm. 46


Psikologi dalam Perkembangan Arsitektur
  N Vinky Rahman
?2003 Digitized by USU digital library
2
















    Michelangelo, Piazza del
Campidoglio, Roma, 1540 
Puncak  pemakaian aspek psikologi dalam perancangan arsitektur klasik
justru terjadi di masa  arsitektur Baroque pada abad XIX.   Padahal, oleh banyak
kritisi, masa arsitektur Baroque ini sering dianggap sebagai jamannya kekacauan 
disain arsitektur.  Arsitektur Art Nouveau  yang muncul kemudian di Eropa,
meneruskannya di awal-awal abad XX.    
Di masa munculnya Arsitektur Modern, pemakaian psikologi pada arsitektur
semakin menunjukkan peningkatan, hal ini terlihat dengan munculnya persepsi
?Gestalt?. Dua arsitek  pada masa ini, Le Corbusier
2) 
dan Walter Gropius
3)
  pernah
mengungkapkan pernyataan yang bisa dianggap mengindikasikan akan adanya
pemakaian aspek psikologis dalam konsep-konsep perancangan mereka

Carlo Fontanz -  St Marcello, Roma 
  
(Arsitektur Baroque) ? 1682



                                                          
2)
  Le Corbusier,
 ?
Toward a New Architecture : Guidng Principles?, oleh Ulrich Conrad, ?Program and
Manifestos on 20
th
 Century Architecture?, Massachusetts, 1970, hlm. 46
3)
  Walter Gropius, ?The Theory and Organization of The Bauhauss?, oleh Tim & Charlott Benton with
Dennis Sharp, ?Form & Function?, London, 1975, hlm. 119
Psikologi dalam Perkembangan Arsitektur
  N Vinky Rahman
?2003 Digitized by USU digital library
3
 

   Salomon de Brasse, St Gervais, Paris 
(Arsitektur Baroque) - 1616






Denah

 
   Antonio Gaudi Casa Mila, Bercelona 
(Arsitektur Art Nouveau) - 1905
Walter Gropius  dalam buku ?The Theory and Organization of the Bauhauss?
menyampaikan pendapatnya yaitu : ?Setiap bentuk adalah perwujudan ide, setiap
karya adalah manifestasi dari pikiran-pikiran pribadi kita. Tetapi, hanya karya yang
merupakan hasil dari ekspresi pribadi yang bisa mempunyai arti spiritual?
Vitruvius mengungkapkan bahwa sebuah bangunan akan berbeda tampilan
dan kesannya bila dilihat dari jarak-jarak yang berlainan, baik dari sisi interior
maupun eksteriornya
4)
.  Ini mengindikasikan bahwa pandangan - pandangan yang
memperlihatkan peranan psikologi dalam karya-karya arsitektur secara tertulis
sudah ditemui sejak awal.   Dalam periode kontemporer, karya-karya arsitektur Post
                                                          
4)
  Vitruvius,  ?The Ten Book of Architecture?,   diterjemahkan  oleh   Wolfgang Hermann
Psikologi dalam Perkembangan Arsitektur
  N Vinky Rahman
?2003 Digitized by USU digital library
4
Modern oleh Charles Jencks, walaupun banyak kritikus berpendapat bahwa karya
jenis ini banyak dipengaruhi oleh unsur linguistik, juga menggunakan unsur-unsur
pengetahuan yang didapat dari disiplin psikologi dalam perancangannya. 
Psikologi sebagai suatu disiplin ilmu pengetahuan yang mandiri, telah
berkembang dalam beberapa spesialisasi yang spesifik pula.  Di Amerika Serikat
pada tahun 1960-an, psikologi lingkungan, salah satu spesialisasi dalam disiplin ilmu
Psikologi, dikembangkan. Hal ini muncul dari suatu upaya untuk meneliti rancangan
ruangan yang dikhususkan untuk para pasien penyakit jiwa di salah satu rumah sakit
umum. Dari sini spesialisasi ini berkembang pesat baik dari sisi objek penelitiannya 
yaitu lingkungan maupun subjek manusia.
Dewasa ini psikologi lingkungan mengemukakan dua topik utama yang
banyak dibahas, yaitu mengenai lingkungan fisik, khususnya yang berkaitan dengan
penurunan kualitas fisik serta timbulnya gangguan terhadap perilaku dan gangguan
terhadap keseimbangan alamiah akibat intervensi manusia melalui pembangunan
fisik.  Sering ditemui kasus-kasus penurunan kualitas lingkungan yang dakibatkan
oleh pembangunan.  
Bila dihubungkan dengan pembahasan di awal, di mana unsur psikologis
selalu dimasukkan dalam perancangan karya-karya arsitektur, timbul pertanyaan,
kenapa hal itu bisa terjadi?. Dan benarkah hal ini disebabkan oleh terjadinya
penyelewengan arsitektur?. 
Banyak yang menyatakan  bahwa indikasi yang menyebabkan terjadinya  
kesalahan-kesalahan di atas adalah  munculnya pemikiran tentang ide
fungsionalisme yang  lahir  dan berkembang pesat di awal abad ini.  Pemikiran
fungsionalisme  ini bisa dikatakan merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari
kebudayaan abad sembilan belas, yang dipelopori oleh para naturalis.  Charles
Darwin, seorang ilmuan genetika dengan teori evolusinya yang fenomenal adalah
salah seorang di antaranya. Paham fungsionalisme  ini menilai suatu keberhasilan
berdasarkan kemampuan suatu objek memenuhi tugas dan fungsi yang dibebankan
kepadanya. 
Dalam bidang arsitektur, konsep fungsionalisme ini ditandai dengan konsep
arsitektur Eugene Emmanuel Viollete le Duc, seorang arsitek Prancis. Ia mengatakan
bahwa para arsitek abad XII dan XIII yang membuat plafon Nave (ruang tengah
gereja) yang sangat tinggi, adalah bukan karena murni keinginan simbolis, tetapi
semata-mata agar bisa mendapatkan udara dan cahaya  agar tidak gelap dan
lembab
5)
.  
Kemudian seorang arsitek Amerika , Luis Sulivan mengeluarkan semboyan 
?form follows function?-nya yang terkenal.  ?International Style? adalah paham yang 
lahir kemudian dan meneruskan ide-ide ini. Pada masa periode kontemporer,
pengaruh fungsionalisme ini diungkapkan dengan istilah ?productivism?
6)
.

                                                          
5)
  Robin  Midleton, ?Eugene  Emmanuel Viollete le Duc?,   ?Encyclopedia in Architecture?,  London, 1982,
hlm 324 
6)
  Kenneth Frampton, ?The Isms of Contemporary Architecture?  dalam 
 ?
Architecture Design Profile?, 
London, 1982, hlm  61

Psikologi dalam Perkembangan Arsitektur
  N Vinky Rahman
?2003 Digitized by USU digital library
5


 
Gereja St Sernin, Toulouse Prancis 
(Ars. Romanesque) - 1080



  Nave Gereja St Sernin


Ada dua unsur penting pembentuk paham arsitektur ?fungsionalis?,  yaitu
?rasionalisasi? dan ?standarisasi?, dimana unsur-unsur komponen arsitektur dibuat
mengikuti sistem organisasi benda-benda alam dan tiruannya yang dibuat oleh
manusia melalui sistem produksi mesin.
Bila ditelusuri sejarah arsitektur moderen, ada dua peristiwa penting yang
dapat dianggap menandai dominasi paham fungsionalisme ini.  Pertama adalah
peristiwa pameran Arsitektur Moderen di New York pada tahun 1992. Pada  peristiwa
pameran ini, pertama sekali dimunculkan  istilah  ?International Syle? untuk karya-
karya arsitektur periode tahun 1920-an. Istilah ini sendiri pertama sekali diusulkan
oleh Henry Russel Hitchcoock dan Philip Johnson yang pada saat itu bertindak
sebagai penyelenggara pameran arsitektur tersebut.  
Karya-karya ?International Style? oleh para kritikus dianggap sebagai penerus
dari karya-karya arsitektur Gothic dalam hal logika struktur bangunannya serta
arsitektur renaisance dalam hal konsistensi aturan-aturan  perancangannya.  Prinsip
dasar desainnya adalah volumetris, teratur dan anti ornamen
7)
.   Unsur psikologi
sama sekali tidak terlihat dan dimasukkan dalam prinsip dasar perancangannya.
                                                          
7)
  Henry  Russel  Hitchcoock  and   Philip Johnson,
?
The  International Style?,   New York, 1966, hlm  40
Psikologi dalam Perkembangan Arsitektur
  N Vinky Rahman
?2003 Digitized by USU digital library
6

 
Mies vd Rohe, Seagram Building, New
York
(International Style) - 1954

 
Philip Johson, AT @ T Building, New
York 
(New International Style) -
1978

Peristiwa kedua  adalah berlangsungnya pertemuan/kongres para arsitek
modernis yang lebih dikenal dengan C.I.A.M. (Congres International d?Architecture
Moderne) yang melahirkan konsep-konsep perancangan kota  yang menjadi dasar
peremajaan, perbaikan, perluasan dan pengembangan kota-kota di seluruh dunia.
Kongres ini sendiri, pertemuan pertamanya diselenggarakan di La Sarraz Switzerland
pada tahun 1928. Pada pertemuan pertama ini dihasilkan suatu deklarasi yang
dikenal dengan istilah ?Deklarasi La Sarraz?
 8)
 yang mengemukakan lima pernyataan
penting, yang  antara lain   : 
1. Arsitektur Modern adalah jembatan antara fenomena arsitekturral dan sistem
ekonomi makro
2. Acuan ?efisiensi ekonomi? berarti kerja seminimal mungkin dalam berproduksi
3. Efisiensi ekonomi dihasilkan melalui perbaikan kondisi sistem ekonomi makro
4. Metode berproduksi yang paling efisien adalah rasionalisasi dan standarisasi
5. Rasionalisasi dan standarisasi dihasilkan melalui penyederhanaan cara kerja
di lapangan dan di pabrik, pengurangan tenaga kerja, penyesuaian kebutuhan
berdasarkan kondisi kehidupan sosial yang baru.
Seperti halnya peristiwa pertama (pameran Arsitektur Moderen New York),
dalam deklarasi inipun tidak secara eksplisit mengindikasikan adanya eksistensi
psikologi dalam prinsip-prinsip disainnya.
C.I.A.M. II  kemudian diadakan di kota Frankfurt Jerman pada tahun 1929
yang bertema ?Die Wohnung fur das exixtenz minimum?, yang kira-kira bermakna
                                                          
8)
  Kenneth Frampton, ?Modern Architecture? dlm  ?Architecture  Design  Profile?,  London, 1980, hlm  269
Psikologi dalam Perkembangan Arsitektur
  N Vinky Rahman
?2003 Digitized by USU digital library
7
bagaimana merancang di atas lahan yang terbatas dengan efisiensi tinggi dan
batasan pokok standar hidup yang minimal.  Kongres menghasilkan resume  sebagai
berikut :
1. mengklasifikasi unit bangunan hunian/rumah dalam sebuah blok perumahan
bertingkat
2. membuat tipe unit hunian yang diklasifikasikan atas dasar tipe keluarga, yang
kemudian diklasifikasikan lagi atas dasar perkiraan umum (keluarga muda,
dewasa, dan tua)
3. tipe unit hunian yang terkecil yang mungkin dibuat adalah ?one room
apartement?, berupa sebuah kamar dengan segala fasilitas standarnya.
Selanjutnya  pertemuan C.I.A.M. III   yang diselenggarakan di kota Brussels 
Belgia di tahun 1930, dengan tema ?Ratonelle Bebauungesweisen? atau  ?Cara
Membangun yang Rasional?.  Pokok permasalahan yang dibahas pada pertemuan ini
adalah mencari perbandingan yang  ideal antara tinggi bangunan dengan jarak antar
bangunan, di atas sebidang tanah yang terbatas luasnya, sedemikian rupa sehingga
tiap penghuni dapat mempertahankan eksistensi minimumnya.
Agak lain dari biasanya, pertemuan C.I.A.M. IV  kemudian diselenggarakan di
atas sebuah kapal yang berlayar dari Athena Yunani ke Marseilles Prancis, pada
tahun 1933.  Pembahasan yang dikemukakan di pertemuan ini berkisar tentang
usaha memperluas konsep perancangan perumahan yang dihasilkan oleh pertemuan
C.I.A.M sebelumnya ke ruang lingkup yang lebih luas lagi yaitu lingkup perkotaan. 
Pertemuan C.I.A.M. IV  ini menghasilkan sebuah pernyataan yang dikenal dengan
istilah ?The Athena Charter? yang merupakan sebuah resume dari seluruh
pembicaraan yang dibuat atas dasar  tema: ?The Functional City?.  Pernyataan
tersebut berisi penilaian atas  kondisi  fasilitas kota - kota di dunia berikut dengan
usulan - usulan perbaikannya.  Isinya  sendiri terdiri dari pengkajian lima  fasilitas
utama kota yaitu  :  perumahan, fasilitas rekreasi, fasilitas tempat bekerja, fasilitas
transportasi,  serta  bangunan bersejarah.  Pembangunan atas lima judul tersebut
didasarkan pada konsep kota sebagai wadah dari empat fungsi utama penghuninya
(manusia), yaitu sebagai  tempat tinggal, tempat bekerja, transportasi dan
berekreasi. Setiap wadah fungsi-fasilitas tersebut merupakan daerah otonom (self
sufficient) yang dihubungkan dengan daerah yang mewadahi fungsi fasilitas lainnya
oleh sistem jaringan jalan, kenderaan dan jalur hijau.  Pengaruh Le Corbusier sangat
besar di sini.
C.I.A.M - V (kelima) di Paris, VI (keenam) di Bridgewater Inggris, VII
(ketujuh) di Bergamo Italia dan VIII (kedelapan) di Hoddesdon Inggris, tidak terlalu
penting untuk dikemukakan karena hanya merupakan usaha mempopulerkan apa
yang telah dirumuskan pada  C.I.A.M - IV (keempat).  Di pertemuan C.I.A.M - IX
(kesembilan) di Aix-en Provence Prancis, tahun 1953,  eksistensi rumusan  C.I.A.M -
IV  mulai dipertanyakan oleh para arsitek angkatan yang lebih muda.  Pada
pertemuan C.I.A.M IX  ini dibentuk kelompok kecil yang disebut Team 10 (tim
sepuluh)  yang diberi tugas sebagai tim pengarah bagi berlangsungnya  C.I.A.M - X
(kesepuluh),  yang ternyata adalah merupakan pertemuan  C.I.A.M  terakhir 
diselenggarakan.
 Hal yang penting bisa ditarik dari rentetan peristiwa-peristiwa di atas adalah
bahwa ternyata ada  masa-masa periode tertentu dalam sejarah arsitektur dimana
aspek   psikologi  sama   sekali tidak disertakan dan dikesampingkan  oleh  para 
arsitek dalam konsep-konsep perancangannya.. Hal  ini  adalah indikasi dari
besarnya pengaruh  fungsionalisme  yang melanda dunia.  Selanjutnya,  dalam
penulisan dan pemahaman arsitektur, wacana dalam dunia arsitektur bisa dikatakan
Psikologi dalam Perkembangan Arsitektur
  N Vinky Rahman
?2003 Digitized by USU digital library
8
tidak sehomogen pada era-era sebelumnya.  Para arsitek modernis kemudian sudah
tidak dapat lagi dipersatukan dalam sebuah wadah saja, tempat mereka hanya
mengemukakan pandangan-pandangannya secara teratur melalui wadah tersebut. 
Berlangsungnya Perang Dunia II serta terjadinya pertumbuhan ekonomi
besar-besaran di Amerika Serikat  beserta sekutunya di Eropa Barat di era tahun
1950-an, kemudian membuat semangat heroik yang menyelimuti arsitek-arsitek
modernis di periode tahun 1920-1930-an  menjadi terhambat dan  berantakan. Yang
dicari mereka yaitu penafsiran yang lebih seksama atas interaksi antara lingkungan
fisik dan kebutuhan sosio psikologis manusia, melebur dalam gerakan modernisasi
yang mendunia melalui industrialisasi yang pada dasarnya merupakan rasionalisasi
dan standarisasi fungsional. 
Para arsitek yang  berusaha  memasukkan  kembali peran psikologi dalam
disain  arsitektur  mereka  sebagaimana  yang di lakukan oleh para arsitek Post
Modern kemudian, ternyata sulit berkembang dan selalu tampil di bawah bayang-
bayang arsitek aliran fungsionalis ini.  Di negara-negara berkembang, selanjutnya 
aliran fungsionalis ini perkembangannya lebih tidak tertahankan.  Kolonialisasi,
modal asing dan sistem pendidikan adalah saluran dan penyebab berkembangnya ide
/ paham ini.

Akibat Perang Dunia II, pemicu utama fungsionalisme

 Identikkah Fungsionalisme dengan Arsitektur Moderen ?. Banyak anggapan
orang yang menyamakan aliran fungsionalis ini dengan Arsitektur Modern. 
Hal ini mengakibatkan segala bias yang terjadi dalam perancangan arsitektur, yang
tidak mengindahkan aspek psikologi, dianggap merupakan akibat dari Arsitektur
Moderen.  Arsitektur Moderen didukung oleh para arsitek yang bersikap ?eklektik? dan
berpandangan revolusioner. Sedangkan arsitektur fungsional adalah merupakan
salah satu di antara alternatif yang muncul  sepanjang  sejarah  Arsitektur  Moderen.
Perbendaharaan Arsitektur Moderen mempunyai sedemikian banyak contoh yang
memperlihatkan bagaimana cara praktis memanfaatkan pengetahuan yang berasal
Psikologi dalam Perkembangan Arsitektur
  N Vinky Rahman
?2003 Digitized by USU digital library
9
dari psikologi.   Beberapa teori yang dikemukakan oleh Kevin Lynch, Christoper
Alexander, Bruno Zevi dan beberapa tokoh lainnya  merupakan bagian terpenting
dari  teori Arsitektur Moderen, yang tidak secara eksplisit didasarkan oleh ide
fungsionalisme.  Begitu pun, teori-teori yang dikemukakan mereka ini tidak sampai
populer di negara berkembang, termasuk di Indonesia, sehingga perhatian aspek
psikologis ini dalam perancangan sering terabaikan

La Ville Radieuse, Le Corbusier, salah satu karya arsitektur fungsionalis

Bruno Zevi, dalam bukunya yang berjudul ?The Modern Language of
Architecture?
 9)
  menyampaikan  pembelaan  atas  nama  Arsitektur Moderen. Dalam
buku tersebut,  Bruno Zevi mengatakan bahwa ?bahasa? Arsitektur Moderen berasal
dari kondisi ?zero degree? , yaitu bahwa Arsitektur Moderen mengawali pembentukan
dirinya dengan melakukan pengkondisian elemen-elemen tektonis yang telah ada
sepanjang sejarah perkembangan arsitektur.  Ada tujuh teknik dasar perancangan
Arsitektur Moderen yang muncul dari proses pembentukannya :
1. Interpretasi yang bebas terhadap isi dan fungsi. Teknik ini berkaitan dengan
tampak bangunan dimana komponen-komponen arsitektur seperti jendela, pintu,
kolom dan lainnya di komposisikan satu dengan yang lainnya atas dasar
?negation? terhadap order-klasik 
2. Perhatian dan empati terhadap perbedaan. teknik, berarti membuat komponen
menjadi cenderung asimetris, dengan tujuan menghapus aturan perspektif aksial
hasil temuan jaman Renaisance
3. Pandangan dan visi yang dinamis serta multidimensional. Hal ini berkaitan
dengan komposisi massa bangunan yang diatur sedemikian rupa sehingga titik
hilang dalam gambar perspektif klasik menjadi tidak terlalu berperan lagi
4. Elemen-elemen yang independen, dimana hal ini ditujukan untuk menghindarkan
diri dari konsep massa yang masif, seperti yang diwariskan oleh Vitruvius.
5. Hubungan dinamis dan organik antara arsitektur dan engineering. Teknik ini
berusaha memanfaatkan penemuan-penemuan baru di bidang struktur dan
konstruksi untuk menghasilkan bentukan-bentukan baru yang terkadang tidak
terbayangkan sebelumnya
                                                          
9)
  Bruno Zevi,
?
The Modern Language of Architecture?,  New York, 1981, hlm 3
Psikologi dalam Perkembangan Arsitektur
  N Vinky Rahman
?2003 Digitized by USU digital library
10
6. Konsep ?living space?,  yang ada hubungannya dengan teknik kelima di atas,
dimana dengan munculnya penemuan - penemuan baru di bidang keteknikan
(engineering), diciptakan dan dihasilkan ruang-ruang yang lebih dinamis
sehingga menggugurkan konsep ruang statis yang terbentuk atas dasar
perspektif  klasik
7. Integrasi antar bangunan, yang merupakan penggabungan dari keenam teknik
sebelumnya. Teknik ini diterapkan pada perencanaan kota.
  Empat dari ketujuh teknik-teknik dasar perancangan Arsitektur Moderen di
atas (item pertama ?keempat) memasukkan unsur psikologi dalam perancangan ;
dimana unsur  ?bentuk?  tampil sebagaimana yang dipersepsikan oleh manusia. 
Teknik kelima dan keenam, merupakan paham baru Arsitektur Moderen, yaitu bahwa
arsitektur adalah suatu gubahan ruang. Hal ini persis seperti konsep ?volume? yang
diajukan oleh paham ?International Style?. 
  Bisa  disimpulkan bahwa teknik dasar perancangan Arsitektur Moderen
bertumpu pada dua konsep, yaitu konsep ?bentuk? dan konsep ?ruang?. Dalam
kaitannya dengan persepsi terhadap ?bentuk? ini,  Niels L Prak menuliskannya dalam
karya tulisnya yang berjudul : ?The Visual Perception of The Built Environment?  dan 
Rudolf Arnheim dalam tulisannya dengan judul :  ?The Dynamics of architectural 
Forms?.  Tanpa membahas isinya, dari kedua judul tulisan  tersebut  dapat  ditarik 
kesimpulan  bahwa ?bentuk? bisa  jadi merupakan hal yang pasti dan tetap, walaupun
pada kesan yang ditinggalkannya dalam alam pikiran manusia selalu berkembang
dan berubah.
  Unruk konsep ?ruang? ada sedikit perbedaan antara Arsitektur Modern dan
Psikologi.  Arsitektur Moderen  hanya  mengenal  satu pengertian  tentang arti
ruang, yaitu sebagai sesuatu yang sifatnya volumetris, sementara Psikologi
mendefinisikannya dalam bentuk wujud yang belum tentu sama
10)
.  Konsep ?ruang?
ini dalam Psikologi kemudian dirinci lagi menjadi  isu ?teritorial?, ?crowding? dan
?privacy? , yang oleh para arsitek dianggap suatu hal yang sama saja.  Bila dalam
arsitektur ungkapan ?teritorial? hanyalah dimaksudkan sebagai batas wilayah fisik
atau administrasi, di psikologi hal ini dimaksudkan sebagai kemampuan diri dalam
mengontrol prilaku di  dalam ruang terhadap subjek lain baik berupa benda, orang
lain ataupun kelompok orang, tanpa ada batasan fisik yang dapat dijadikan  sebagai
suatu patokan.
Arsitektur mengenal istilah ?crowding? sebagai suatu nilai ?kepadatan? orang terhadap
satuan luasan tertentu.   Dalam psikologi , istilah ?kepadatan? sendiri dilihat dari
beberapa gejala yaitu: crowding (keramaian), density (kepadatan) dan congestion
(kemacetan).  Istilah  ?crowding? diartikan sebagai rasio / perbandingan jumlah orang
terhadap satuan kenyamanan. Faktor ?kenyamanan? sendiri, adalah satuan yang
tidak sama untuk setiap pelaku, tiap peristiwa dan lokasi kejadiannya.
Konsep ?privacy? dalam arsitektur bisa diartikan sebagai suatu kebutuhan
manusia untuk menikmati sebagian dari kehidupan sehari-harinya tanpa ada
gangguan baik langsung maupun tidak langsung oleh subjek lain. Hal ini dinyatakan
dalam suatu ruang yang tertutup dari jangkauan pandangan maupun fisik dari pihak
luar.   Jadi jelas ada batasan-batasan fisik untuk mencapainya.  
Psikologi mengartikan ?privacy?  sebagai kebebasan pribadi untuk memilih apa yang
akan di sampaikan atau dikomunikasikan tentang dirinya sendiri dan kepada siapa
                                                          
10)
  Proshansky Ittleson and Winkel Rivlin,
?
An Introduction to Environmental Psychology?,  New
York, 1974, hlm  141


Psikologi dalam Perkembangan Arsitektur
  N Vinky Rahman
?2003 Digitized by USU digital library
11
akan disampaikan
11)
.  . Dengan perkataan lain, ?privacy? dalam psikologi belum tentu
akan tercipta hanya dengan adanya batasan-batasan fisik saja.
Psikologipun mengklasifikasikan ?privacy? ini menjadi: ?solitude? yang berarti
kesunyian, ?intimacy? atau keintiman, ?anonymity? atau tanpa identitas, dan ?reserve?
yang berarti  kesendirian.
 Dari beberapa perbedaan di atas, jelas dibutuhkan kerjasama dalam hal
pengertian atas konsep-konsep tersebut, karena ternyata tidak semuanya dan belum
tentu ungkapan dan istilah psikologi itu bisa diwujudkan dalam bentuk fisik
arsitektur.  Hal ini tidak mudah, sebagaimana yang diungkapkan oleh Vitruvius
tentang defenisi arsitektur yaitu ?the art of building? dimana pengertian kata
?building? itu sendiri mempunyai dua pengertian yang berlainan dalam  wujud
bentuk fisiknya.  Makna pertama  berupa  bentukan fisik tertentu sebagai suatu hasil
akhir disain, sementara makna yang lain mengacu kepada suatu ?proses? yang tidak
akan berhenti sampai kapanpun.  Di dalam prakteknya sejauh ini karya arsitektur
masih mengacu dan memihak pada makna pertama tadi
Rasionalisasi dan standarisasi seperti yang dikemukakan dalam pertemuan-
pertemuan C.I.A.M., sebenarnya  adalah bentuk upaya  para  arsitek masa itu
menciptakan karya arsitektur berdasarkan makna yang kedua tadi (building is a
process).  Konsep-konsep mereka bertumpu pada suatu anggapan bahwa arsitektur
adalah suatu proses penyusunan berbagai bentukan fisik dengan menggunakan
komponen-komponen yang standar.   
Dalam prakteknya yang terjadi tentu  karya arsitektur dengan variasi-variasi
yang terbatas dan bila dilihat dari sisi ?proses? sebagai sesuatu yang tidak pernah
berhenti, hal ini bisa dikatakan mandek, sehingga bisa dikatakan belum
menghasilkan karya-karya yang benar-benar bisa dianggap sebagai suatu revolusi
dalam bidang arsitektur.


                                                          
11) 
Proshansky Ittleson and Winkel Rivlin,
?
An Introduction to Environmental Psychology?,  New
York, 1974, hlm 152
Psikologi dalam Perkembangan Arsitektur
  N Vinky Rahman
?2003 Digitized by USU digital library
12
Daftar Pustaka
1. Ulrich, Conrads,  ?Program and Manifestos on 20 th-century architecture ?,
Massachussets, 1970
2. Peel, Lucy.,  Powell, Polly and Garrett, Alexander, ? An Introduction to 20
th
-
Century Architecture ?,  London, 1996
3. Frampton, Kenneth,   ? Modern Architecture and the Critical Present ?,  London,
1982 .
4. Hitchcock, Russel ; Johnson, Philip,  ? The International Style ?, New yortk, 1966.
5. Tim & Charlott Benton ; Sharp, Dennis, ? Form & Function ?,  London, 1975
6. Midleton, Robin  ,
?
Encyclopedia in Architecture ?,  London, 1982.
7. Frampton, Kenneth, 
?
Architecture Design Profile ?,  London, 1982
8. Ittleson, Proshansky ; Rivlin, Winkel,
?
An Introduction to Environmental
Psychology ?,  New York, 1974

Senin, 21 Oktober 2013

The Opera House Project: Telling the Story of an Australian Icon



To coincide with the 40th anniversary of the completion of Danish architect Jørn Utzon‘s Sydney Opera House, The Opera House Project takes you on a journey from the project’s inception in 1954 – known as Design 218 – to the completed masterpiece up to 2012, and all the personal, political and technical struggles that the designers were faced with. As expressed by Sam Doust, writer and director of the project, the epic journey is based on an “aspiration to perfection” and then the “failure to achieve it”.

Divided into four chapters, Concept, Design and Architecture, Engineering and Construction, Performance and Events, and Bennelong Point, the project investigates the opera house’s origins and how it was selected from 233 entries, of which it was among the last to be received. The incredible collaborative approach to the technical and aesthetic design of the building in the first phases of construction are a story in themselves, with a collective 150,000 hours (over ten years) of man hours put into structural problem solving alone. This led the Pritzker Prize citation to declare in 2003 that “it is one of the great iconic buildings of the 20th century, an image of great beauty that has become known throughout the world—a symbol for not only a city, but a whole country and continent”.

The Opera House Project is compatible with both internet browsers and mobile devices. It’s an unbelievably engaging story including archived footage, images and sound recordings courtesy of Arup and the government. If you don’t have time to watch the entire project, perhaps just check out their fantastic 3D models. Transcripts of the entire story are also available.

[Sumber : http://www.archdaily.com/]

Minggu, 29 September 2013

Soekarno Pencentus Cikal Bakal Renovasi Masjidil Haram

Presiden pertama Indonesia, Soekarno disebut-sebut menyumbangkan ide arsitekturalnya dalam renovasi Masjidil Haram. Ide tersebut tercetus saat Soekarno menunaikan ibadah Haji.

Saat Soekarno menunaikan ibadah Haji, dia tidak melewatkan perhatiannya terhadap kondisi Masjidil Haram di Makah. Sebagai seorang arsitek, Soekarno tergerak untuk memberikan sumbangan ide arsitektural kepada Pemerintah Arab Saudi agar membuat bangunan untuk melakukan  salah satu ritual haji yaitu Sa'i, menjadi dua jalur dalam bangunan dua lantai.


"Semula bangunan tersebut tidak bertingkat. Begitu jamaahnya setiap tahun bertambah, semakin padat, akibatnya menyengsarakan bagi para jamaah. Usulan Bung Karno sebagai seorang insinyur sipil sangat tepat untuk mengatasi kesumpekan itu," kata Profesor Tata Kota Eko Budiharjo seperti dikutip dalam buku "Bung Karno Sang Arsitek" karya Yuke Ardhiati, Selasa (23/7/2013).

Nampaknya, ide arsitektural tersebut menular hingga kini. Meskipun bukan lagi penyumbang ide, kontraktor asal Indonesia menjadi subkontraktor dalam renovasi Masjidil Haram tersebut.


PT Wijaya Karya Tbk bekerjasama dengan Bin Laden Construction untuk mengerjakan proyek renovasi yang pada tahap pertama bernilai Rp92 miliar. Bin Laden Construction merupakan kontraktor terbesar di Arab. Bahkan, mereka memiliki hak prerogatif atas renovasi Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.

Tak hanya Waskita Karya, perusahaan BUMN lainnya, yaitu PT Wijaya Karya Tbk, juga tak mau kalah. Perusahaan tersebut saat ini sedang melakukan negosiasi untuk pengembangan kawasan di Masjidil Haram.

Pengembangan kawasan tersebut adalah pembangunan tujuh tower hotel yang masing-masing tower terdiri dari 1.000 kamar hotel. Tak tanggung-tanggung, nilai proyek tersebut mencapai Rp2 triliun.

[Sumber : http://property.okezone.com]
Baca juga : "Grand Design Perluasan Majidil Haram Makkah"

Jumat, 23 Agustus 2013

ARSITEKTUR DAN HILANGNYA SENI MENGGAMBAR

Oleh : Michael Graves
(Penerima AIA Gold Medal 2001 dan profesor emeritus di Universitas Princeton Amerika Serikat.)


Telah menjadi kecenderungan  pada  banyak kalangan arsitektur untuk menyatakan bahwa : menggambar  sudah mati. Apa yang terjadi dalam profesi kita, dan kesenian kita, yang telah menyebabkan keniscayaan berakhirnya dari cara yang paling kuat untuk mengkonsepkan dan merepresentasikan arsitektur?

Komputer , tentu saja.

Dengan kemampuannya yang luar biasa untuk mengorganisir dan menampilkan data, komputer telah mengubah setiap aspek dalam  mana  dan bagaimana seorang arsitek bekerja, dari sebuah sketsa impresi pertama ide mereka hingga menciptakan dokumen konstruksi yang rumit untuk kontraktor. Selama berabad abad kata benda “digit” ( dari bahasa Latin : digitus) selalu berarti jari (dalam bahasa Inggris). Tetapi sekarang , bentuk adjektifnya ( kata sifat) : “digital” hampir selalu  dikaitkan dengan data. Apakah tangan kita telah menjadi kuno sebagai perangkat kreatif? Adakah tangan kita telah digantikan oleh mesin?  Dan dengan itu  dimana sekarang proses kreatif berada?

Dewasa ini rata rata arsitek menggunakan perangkat lunak CAD ( Computer Aided Design= desain yang dibantu oleh komputer) dengan nama nama seperti AutoCAD dan Revit sebuah perangkat untuk membuat BIM ( Building Information Modeling = Pemodelan informasi bangunan). Bangunan bangunan tidak lagi dirancang secara visual dan spatial; mereka di komputasikan melalui berbagai database yang saling tersambung. Saya berpraktik arsitektur sejak tahun 1964, dan kantor saya tidak kebal ( terhadap komputer). Seperti semua arsitek , kami secara rutin menggunakan program peranti lunak ini dan itu terutama untuk dokumen konstruksi, tapi juga untuk pengembangan rancangan dan presentasi. Tak ada masalah yang inheren mengenai hal itu, sepanjang itu tidak hanya demikian.

Arsitektur tidak bisa memisahkan diri dari gambar, seberapapun teknologi mengesankan. Gambar gambar bukan sekedar hasil akhir: mereka adalah bagian dari proses pemikiran dari rancangan arsitektur. Gambar gambar mengungkapkan interaksi dari pikiran kita, mata dan tangan. Pernyataan yang paling belakang ini adalah mustahak ( krusial) bagi perbedaan antara mereka yang menggambar untuk mengkonsepkan arsitektur dan mereka yang menggunakan komputer. Tentu saja , dalam beberapa hal gambar tidak bisa mati: ada pasar besar untuk karya asli dari para arsitek terkemuka. Saya pernah menggelar pameran tunggal di New York dan tempat lainnya, dan gambar gambar saya bisa ditemukan pada koleksi koleksi Metropolitan Museum of Art, Museum of Modern Art dan Cooper-Hewitt.

Tapi dapatkah nilai dari gambar gambar itu hanya sekedar dari artifak para kolektor atau sebuah gambar indah? Tidak. Saya memiliki tujuan sejati dalam membuat setiap gambar: atau untuk mengingat sesuatu atau mempelajari sesuatu. Setiapnya adalah bagian dari suatu proses dan tidak berakhir pada dirinya. Secara pribadi saya tertarik bukan saja dengan apa yang dipilih para arsitek untuk digambar tetapi juga apa yang mereka pilih untuk tidak digambar. Selama puluhan tahun saya mendapat alasan untuk mengatakan bahwa gambar arsitektur bisa dibagi menjadi tiga jenis  yang saya sebut sebagai 1. sketsa acuan  (referential sketch), 2. gambar studi persiapan  ( preparatory study) dan 3. gambar definitif ( the definitive drawing).

Belakang ini gambar definitif , sebuah produk akhir dan yang paling berkembang dari yang tiga ini, hampir secara universal di produksi dengan menggunakan komputer, dan itu masih bisa dibilang patut. Tetapi bagaimana dengan dua lainnya? Apa nilai mereka dalam proses kreatif ? Apa yang bisa mereka ajarkan ke kita? Sketsa acuan berperan sebagai catatan harian visual, rekaman dari temuan seorang arsitek. Sketsa itu bisa saja sesederhana catatan ringkas dari konsep rancangan atau dapat menjelaskan detail dari komposisi yang lebih besar. Bahkan bisa pula bukan  menjadi gambar yang ada hubungannya dengan sebuah bangunan  ataupun suatu waktu dalam sejarah.



Sketsa acuan lebih sebagai penangkap ide daripada sebuah representasi kenyataan. Sketsa seketsa ini dengan demikian pada galibnya bersifat tidak lengkap dan sangat pemilih. Ketika saya menggambar sesuatu, saya mengingat yang saya gambar.  Gambar adalah sesuatu yang mengingatkan gagasan yang dari semula menyebabkan saya mencatat. Hubungan yang mendalam itu, yaitu proses pemikiran itu, tak bisa ditiru oleh sebuah komputer. Jenis gambar kedua, studi awal (preparatory study) biasanya adalah bagian dari proses kemajuan penggambaran yang memperhalus sebuah rancangan. Seperti sketsa acuan, gambar studi awal ini bisa tidak mencerminkan proses linear.( saya mendapatkan bahwa CAD jauh blebih bersifat linear dalam proses penggambaran). Secara pribadi saya suka menggambar diatas kertas tembus pandang berwarna kuning ( kalkir kuning) , yang membuat saya menggambar berlapis lapis satu diatas yang sebelumnya, mengembangkan apa yang sudah saya gambar sebelumnya dan, lagi lagi, menciptakan sebuah hubungan emosional dengan pekerjaan saya.


Dengan kedua jenis gambar ini, ada semacam kegembiraan tertentu dalam penciptaannya, yang datang dari interaksi antara otak dan tangan. Interaksi  hubungan fisik dan mental kita dengan gambar adalah perbuatan-perbuatan  pembentukan. Dalam sebuah gambar tangan, apakah itu diatas sebuah tablet elektronis (pad) atau diatas kertas, ada intonasi, jejak jejak niat dan spekulasi. Ini tak beda dengan bagaimana seorang musisi mengintonasikan nada atau bagaimana sebuah rif dalam jazz dipahami secara halus mendalam (subliminally)  dan membuat anda tersenyum.

Saya mendapatkan semua itu berbeda dengan apa yang sekarang disebut sebagai “rancangan parametrik” yang membolehkan komputer mengenerate bentuk melalui satu set instruksi instruksi, yang kadang berujung pada apa yang disebut sebagai “arsitektur gumpalan (blob architecture = arsitektur yang pada umumnya berbentuk tetesan air). Rancangan rancangannya rumit dan menarik dalam caranya sendiri, tetapi tak memiliki kepuasan emosional dari sebuah rancangan yang berasal dari (gambar) tangan. Beberapa tahun yang lalu saya duduk dalam suatu rapat fakultas yang agak membosankan di Universitas Princeton. Untuk melewatkan waktu, saya mengeluarkan tablet elektronik saya dan mulai menggambar sebuah denah, barangkali dari sebuah bangunan yang sedang saya rancang. Seorang kolega yang sama bosannya dengan saya memperhatikan dengan rasa terhibur. Saya tiba pada suatu titik dimana saya tak bisa memutuskan sesuatu dan menyerahkan tablet saya padanya. Dia menambahkan beberapa garis dan mengembalikan tablet itu. Permainan berlanjut. Bolak balik, masing masing menggambar lima garis , lalu empat dan seterusnya.

Sementara kami tak bicara, kami terlibat dalam suatu dialog mengenai denah ini dan kami saling sangat mengerti. Anda bisa saja melakukan hal ini dengan kata kata sebagai suatu debat biasa.  Tetapi sangat berbeda. Permainan kita bukan mengenai si pemenang atau yang kalah, tetapi mengenai sebuah bahasa bersama. Kami murni menyukai proses pembuatan gambar ini. Ada sebuah keharusan , dalam perbuatan menggambar , bahwa komposisinya harus terbuka, dan spekulasinya akan tetap “basah” dalam pengertian melukis (dengan cat minyak yang memerlukan beberapa waktu untuk kering dan selesai sehingga selama catnya  masih basah kita masih bisa merubah , menambah dan mengurangi) . Denah kami dibuat tanpa skala dan kami bisa saja dengan mudah atau menggambar sebuah bangunan rumah tinggal dari bagian sebuah kota. Perbuatan menggambar itulah yang membuat kami bisa berspekulasi.

Sekarang apabila saya bekerja sama dengan mahasiswa dan staf saya yang menguasai komputer, saya perhatikan bahwa ada sesuatu yang hilang ketika mereka menggambar hanya dengan komputer. Sama dengan kita mendengar kata kata dalam sebuah novel yang dibacakan keras keras, (sementara) kalau  membaca sendiri bukunya, memberi kesempatan kita untuk sedikit berangan angan sedikit berasosiasi diluar arti harafiah dari halaman halaman novel itu.

Begitu pula halnya dengan gambar tangan yang akan merangsang khayalan dan membuat kita bisa berspekulasi mengenai gagasan gagasan, sebuah isyarat bagus bahwa kita memang benar benar hidup.

Judul asli: Architecture and the Lost of Art of Drawing. Oleh Michael Graves

Rabu, 24 April 2013

Konsep "Rumah Kulkas" di Iran


Lihat gambar slide showw, klik tautan berikut:
http://www.flickr.com/photos/joaoleitao/sets/72157632286183494/show/


Jauh sebelum ditemukannya kulkas, bangsa Persia atau Iran telah menciptakan rumah yang menggunakan prinsip kulkas. Ya, rumah es atau ice house dibangun sebagai tempat cadangan es di musim panas.

Memang, sebelum ditemukannya kulkas yang disebut-sebut sebagai penemuan zaman modern, es merupakan komoditi berharga yang tidak mudah dibuat, terutama di sepanjang musim panas. Untuk mengawetkan daging atau makanan lainnya, balok-balok es harus diimpor dari negeri-negeri Skandinavia di Kutub Utara atau dari puncak-puncak gunung yang dibawa secara hati-hati dengan diselimuti jerami.

Di Amerika, Inggris dan negara-negara Eropa lainnya, es didatangkan dari Norwegia. Sementara orang-orang Rusia mengumpulkan es dari Sungai Neva, dan masyarakat India memperolehnya dari Pegunungan Himalaya.

Balok-balok es itu secara khusus disimpan dalam bangunan yang dikenal dengan ice house atau rumah es atau rumah kulkas, dan berlangsung selama bertahun-tahun lamanya. Rumah es itu dibuat dengan cara menggali tanah untuk menempatkan es di dalamnya. Selama musim dingin, es dan salju diambil dan dimasukkan ke dalam rumah es tersebut, lalu diselimuti dengan jerami atau serbuk gergaji.

Ternyata, cara ini sangat jitu sebab mampu membekukan es hingga berbulan-bulan lamanya, bahkan seringkali sampai menjelang musim dingin berikutnya. Alhasil, es tetap bisa digunakan sebagai cadangan selama musim panas.

Pada prinsipnya, masyarakat Iran telah membuat rumah es pada awal abad ke-17 sebelum masehi. Mereka membuat saluran es di belakang rumah es mereka. Selama musim dingin, saluran tersebut bermanfaat untuk mengalirkan air ke dalam rumah es itu.

Adapun rumah-rumah es itu dibangun menggunakan lumpur yang disusun membentuk susunan batu bata. Bentuknya ada yang seperti kubah atau rumah semut.

Ada lebih dari 100 rumah es bisa dijumpai di seluruh Iran. Namun, saat ini hanya sedikit yang masih bertahan dalam bentuk aslinya. Banyak rumah es rusak dan beberapa hanya dijadikan tempat pembuangan sampah.

Sumber :
http://www.amusingplanet.com/2013/01/ancient-ice-houses-of-iran.html

Sabtu, 16 Maret 2013

Arsitektur Minimalis




Design arsitektur minimalis yang tengah marak saat ini sebenarnya bukan bentuk arsitektur baru. Sejak awal tahun 1920-an sampai bersinar kembali pada tahun 1990-an, telah hadir dengan faktor pemicu, interpretasi dan aplikasi ”simplicity” yang khas dari satu arsitek dengan arsitek lainnya.

Sebenarnya, Le Corbusier dan Ludwig Mies van der Rohe adalah dua dari sekian banyak arsitek yang memberi pengaruh warna kesederhanaan (simplicity) yang signifikan dalam dinamika arsitektur desain minimalis sejak dulu hingga kini.

Kritikus seni Juan Carlos Rego dalam buku Minimalism: Design Source (Page One, Singapore, 2004) mengungkapkan, design architecture minimalis merupakan pendekatan estetika yang mencerminkan kesederhanaan. Fenomena ini tumbuh di berbagai bidang, seperti seni lukis, patung, interior, arsitektur, mode, dan musik. Akan tetapi, awal pertumbuhan dan faktor pemicu tumbuhnya arsitektur desain minimalis di berbagai bidang bersifat khas dan tidak dapat digeneralisasi.

Minimalis dalam seni lukis dan patung dikenal dengan sebutan Minimal Art, ABC Art, atau Cool Art. Pancaran kesederhanaan Minimal Art dapat dirasakan dari ungkapan pelukis Frank Stella, ”What you see is what you see.”

Minimal Art berkembang di Amerika pada tahun 1960-an sebagai reaksi terhadap aliran abstrakt-ekspresionisme yang mendominasi dunia seni tahun 1950-an. Abstrakt-ekspresionisme mengekspos nilai emosi individual, sedangkan Minimal Art mengekspos nilai universal melalui bentuk abstrak dan geometris dalam komposisi matematis.Pasang-surut

Minimalis dalam arsitektur menekankan hal-hal yang bersifat esensial dan fungsional. Bentuk-bentuk geometris elementer tanpa ornamen atau dekorasi menjadi karakternya. Mengacu pada pendapat Carlos Rego itu, dapat dikatakan arsitektur minimalis mulai tumbuh pada awal abad ke-20 yang dikenal sebagai abad Modern, abad yang diramaikan berbagai kemajuan sebagai dampak dari Revolusi Industri.

Inovasi berbagai material arsitektur bangunan seperti baja, beton, dan kaca, standardisasi dan efisiensi memberi tantangan baru dalam dunia rancang bangun. Beragam pemikiran dikemukakan para arsitek di daratan Eropa maupun Amerika. Pada saat itu pun mereka tengah berusaha mencari format arsitektur baru yang mencerminkan semangat zaman dengan mencoba meninggalkan pengaruh desain bangunan arsitektur klasik.

Ada kelompok arsitek yang memaknai kemajuan zaman itu dengan tetap mempertahankan spirit dekoratif desain arsitektur klasik, tetapi menggunakan motif nonklasik. Contohnya, arsitektur Art Deco tahun 1920-an.

Ada juga yang mengeksplorasi bentuk geometri murni dan antidekorasi, seperti terlihat pada karya Le Corbusier pada tahun 1920-an. Ada juga yang mengeksplorasi integrasi kemajuan industri, teknologi dalam arsitektur, dan antidekorasi, seperti terlihat pada karya Ludwig Mies van der Rohe. Dua kelompok terakhir yang menyiratkan bentuk elementer, fungsional, dan antidekorasi ini dapat disebut sebagai design arsitektur minimalis.

Seiring dengan perjalanan waktu, pengintegrasian kemajuan industri dan teknologi dalam arsitektur bangunan mendominasi arah perkembangan arsitektur. Kehadirannya yang terasa di berbagai belahan dunia membuatnya dijuluki sebagai International Style.

[Sumber : http://arsitekkampung.wordpress.com]